My First Week as a Mom

Hei..

Saya mau share sedikit cerita saat seminggu pertama menjadi seorang ibu. Seperti yang saya ceritakan di post sebelumnnya It’s a blessing , saya melahirkan saat usia kandungan baru menginjak 36 minggu, alhamdulillah kondisi saya dan bayi sehat dan juga bayi saya tidak perlu masuk NICU. 

Satu yang benar benar terasa adalah setelah melahirkan adalah, semua datang begitu cepat. Karena semua awalnya saya persiapkan untuk proses melahirkan secara sesar pada 01 Juli 2017, dan ketika saya akhirnya melahirkan secara normal 19 Juni 2017, maju dua minggu dari jadwal sesar dan maju satu bulan dari HPL asli (40 weeks). Banyak hal yang belum saya persiapkan secara matang , dari beberapa barang bayi yang saya tunda, hingga mental saya sendiri yang masih belum terlalu siap.

Tiga hari pertama di rumah sakit masih aman, selain karena memang saat itu minggu terakhir bulan puasa, keluarga dan teman yang menjenguk pun tidak terlalu banyak. Suami juga dapat libur seminggu karena lebaran jadi bisa stand by terus di RS, bantuan suster juga lah yang bikin tiga hari pertama kehidupan saya bersama buah hati cukup santai. Saya ingat betul malam pertama kay harusnya sudah tidur bersama saya, dia tiba tiba gumoh dan berwarna kecoklatan. Panik, kami pun memanggil suster, dan akhirnya Kay dibawa suster dan menginap di inkubator karena perlu di observasi. Karena gumohnya tidak berulang, keesokan harinya Kay sudah bersama saya lagi (itu malam terakhir saya bisa tidur lebih dari 3 jam straight. Haha)

Nah kehidupan saya benar benar berubah saat sudah pulang di rumah. Sebagai orang tua baru, saya benar benar clueless, ya engga sebegitunya banget sih, karena sekarang ada mbah gugel dan saya pun beberapa kali ikut kelas yang menambah ilmu saya untuk mengurus bayi. Ada suami super siaga dan saya juga masih tinggal dengan mama, belum bantuan dari adik yang sedang libur dan mba yang tidak pulang kampung. Namun tetap, orang tua Kay itu saya dan Therza, most of the time ya Kay dengan kami, belum lagi ilmi yang di pelajari dan ketika prakteknya tetap beda. Hormon selepas melahirkan yang masih belum stabil juga jadi salah satu cobaan. 

Engga bohong saya merasa saya mengalami baby blues ringan, kenapa dengan pedenya saya bilang ringan? Karena itu hanya di minggu awal pertama, dan saya menangis kurang lebih tiga kali. Pertama itu ketika malam pertama Kay pulang, dia nangis rewel tapi bukan minta asi, dan kalau nangis badan Kay merah semuanya. Langsung air mata saya ngalir, sedih liat anak seperti itu, dan disisi lain saya bingung ga tau mau ngapain.. ternyata, dia hanya perlu ganti popok (selama di RS suster terus yang gantiin) 

Nangis kedua itu keesokan harinya saat nyusuin Kay, dimana tiba tiba saya tersadar, saya sudah jadi ibu (telat yaa :p) makhluk indah di depan saya ini anak saya, dan perasaan sayang dan cinta saya meluap untuk Kay, lalu nangis lagi deh. Haha. Tidak mau hal ini berlanjut, saya langsung cari resep atasi baby blues dengan essential oil, langsung saya pakai dan it works, perasaan saya langsung enakan, dan saya lebih tenang menghadapi tangisan Kay. 

Tangis yang ketiga itu hampir mirip dengan yang pertama, bedanya ini sudah ganti popok dan saya susui tetap rewel, dan waktu itu siang siang jadi rumah masih sepi, cuma bertiga, saya, Kay dan mba. Rasa helpless lah yang bikin saya jadi nangis. Begitu berhasil boboin Kay, langsung balur EO lagi, akhirnya kondisi emosional pun stabil lagi. 

Mandiin juga jadi tantangan di minggu pertama ini, karena tali pusar Kay belum lepas, dan karena lahirnya dadakan, saya belum menyiapkan orang yang memang berpengalaman untuk bantu dan mengajarkan saya untuk memandikan bayi. Mama saya juga masih takut karena tali pusarnya belum copot, alhasil hari pertama Kay cuma di lap aja. Untungnya istri salah satu karyawan papa ada yang sudah jago mandiin bayi, dan kita minta tolong beliau (pagi pagi datang kerumah bantu mandiin) sampai akhirnya saya homecare dengan suster dari rumah sakit. (Sekarang sih sudah bisa mandiin sendiri)

Kurang lebih begitu lah minggu pertama saya jadi ibu, minggu terberat sejauh ini. Kalau sekarang sih untungnya sudah tidak nangis lagi, sudah mulai tau apa yang Kay butuh dan saya haru apa. Banyak searching, tanya tanya dan baca buku itu bantu banget, intinya perbanyak ilmu untuk dunia parenting dan per-bayi-an ini. 

Salut deh untuk para pasangan yang sudah langsung memutuskan untuk tinggal berdua, bertiga dengan bayinya tanpa bantuan orang tua. Selain bantuan suami (yang memang wajib) saya sampai sekarang masih terbantu banget sama mama dan adik adik. 

Sending love to all mommies out there

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s